Sabtu, 17 Oktober 2009

SEDIKIT INFO TENTANG PPSQ ASY-SYADZILY

I.SEJARAH SINGKAT PENDIRIAN

Pondok Pesantren Salaf Al-Qur'an (PPSQ) Asy-Syadzili didirikan pada tahun 1975 oleh KH. Syadzili Muhdlor, dengan nama Pondok Pesantren Tarbiyah Tahfidzil Qur'an (PPTQ). KH. Syadzili Muhdlor berasal dari Lamongan, merupakan salah satu santri dari Hadrotus Syech KH. Hasyim Asy'ari -Jombang Jawa Timur. Beliau wafat pada tanggal 24 Djumadil Awal 1412 H pada usia 75 tahun

Setelah beliau wafat, pondok putri diasuh oleh Nyai Hj. Afifah salah seorang putri beliau yang sudah lama ikut membantu mengajar, sedangkan untuk santri putra, belum ada yang siap menggantikan mu'assis (KH. Syadzili Muhdlor), karena Putra Beliau yang Hafidz Al Qur'an (Agus Abdul Mun'im Syadzili) masih menuntut ilmu di Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri. Sehingga pengajaran santri Putra sementara diserahkan kepada santri senior yaitu Ust. Munadi dan Ust.Hasyim.

Pada tahun 1995, Agus Abdul Mun'im Syadzili selesai menuntut ilmu di Pondok Pesantntren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, sehingga secara bertahap menggantikan untuk menjadi pengasuh Ponpes Asy Syadzili.

III.PROGRAM PENDIDIKAN
Sebagai upaya dalam mencapai visi dan misi yang telah dicanangkan serta sebagai tujuan utama pendirian PPSQ Asy-Syadzili maka, PPSQ Asy-Syadzili menyusun program pendidikan yang di bagi dalam 3 (tiga) bidang pendidikan, yang terdiri dari :

a.Program Tahfidh Al-Qur'an
1.Jadwal Tahfidh Al-Qur'an
Jadwal tahfidh Al-Qur'an dibagi menjadi 2 yakni:
a.Setoran tahfidh
Dilaksanakan setiap pagi pukul 04.00-06.00.
b.Deresan (kegiatan tahfidh)
Dilaksanakan setiap malam pukul 19.00-22.00 kegiatan ini hukumnya wajib bagi seluruh santri

2.Sistem Tahfidhul Qur'an
a.Penentuan maqro' (yang harus dihafalkan santri)
Maqro (yang harus dihafalkan santri) langsung dibacakan oleh pengasuh secara kolektif.
b.Setoran hafalan
Sistem setoran tetap melestarikan sistem setoran yang dirintis dan dilaksanakan oleh Mu'assis (pendiri) yaitu setiap santri menyetorkan hafalannya secara bergantian (satu-persatu) untuk meminimalkan kesalahan bacaan hafalan.

3.Ilmu Al-Qur'an
a.Ilmu bacaan Al-Qur'an ( Qiroah Sab'ah)
b.Tafsir Al-Qur'an
c.Bahasa Al-Qur'an
d.Sebagai upaya dalam mengabadikan isi kandungan Al-Qur'an

b.Program dirosah
Adalah pelajaran tambahan berupa pengkajian kitab-kitab kuning dan dibagi menjadi beberapa kelas.

a.Program pembinaan Akhlaq Qur'ani
Program Pembentukan Akhlaq Qur'ani dimaksudkan agar seluruh santri tidak hanya memahami ilmu Al Qur'an, namun sudah terbiasa menerapkan ajaran Al Qur'an dalam seluruh aspek kehidupan. Program ini diselenggarakan melalui 3 pendekatan:
1.Sorogan Kitab Ilmu Tasawuf
Metode sorogan memberikan kesempatan santri untuk tatap muka secara langsung sehingga pemberian tuntunan mauidhoh qolbiyah bisa dilaksanakan secara efektif dan intensif.
2.Penerapan kaidah akhlaq dan tasawuf dalam seluruh aspek kehidupan santri, melalui tuntunan tata tertib pola kehidupan santri.
3.Pengawasan dan bimbingan secara intensif dan berkesinambungan terhadap penerapan tuntunan akhlaq oleh para santri dalam kegiatan keseharian.


IV.PROGRAM PENGEMBANGAN KESANTRIAN
Program pengembangan kesantrian merupakan program ekstra yang bertujuan menunjang kemampuan santri dalam bidang-bidang di luar bidang utama yang wajib dikuasai setiap santri (Al-Qur'an dan disiplin ilmu agama yang lain).
Dalam program ini santri akan dilatih pengetahuan dan keterampilan umum yang dianggap sangat penting dan bersifat aplikatif, serta diharapkan alumni PPSQ Asy-Syadzili memiliki kemampuan untuk mengembangkan seluruh aspek ilmu yang telah mereka dapatkan baik yang bersifat teori ataupun aplikasi.
Program pengembangan ini antara lain:
a.Program pelatihan keorganisasian
b.Program kewirausahaan
c.Program seni budaya islam
d.Program olah raga dan kesehatan

III.KETENTUAN ADMINISTRASI
IV.1.Prosedur Pendaftaran
IV.1.1.Formulir pendaftaran dan pernyataan santri baru
IV.1.2.Fotokopi ijazah terakhir dilegalisir atau keterangan pindah dari Pesantren/Sekolah yang ditinggalkan
IV.1.3.Foto berwarna 3x4 (1 lembar)
IV.1.4.Melunasi biaya pendaftaran dan bantuan pengembangan pendidikan
a.Pendaftaran santri baru Rp. 15.000,-
b.Pendaftaran santri MADIN baru 15.000,-
c.Bantuan pengembangan pendidikan dengan pilihan:
Minimal Rp. 50.000,-
Standart Rp. 150.000,-
Optimal Rp. 200.000,-
IV.1.5.Menyerahkan surat keterangan pindah dari Desa/Kelurahan
IV.1.6.Diantar oleh orang tua/wali

IV.2.BIAYA PENDIDIKAN
Biaya pendidikan meliputi:
1.Syahriyah dirosah Rp. 75.000,- per bulan
2.Kebutuhan operasional asrama Rp. 25.000,- perbulan
3.Kost 2 kali makan Rp. 150.000,- per bulan


*terbuka untuk putra dan putri untuk semua kalangan

Selasa, 13 Oktober 2009

I'LAN

Assalamu'alaikum wr. wb.
Salam sejahtera dan ukhuwah islam untuk kalian semua . .

kini saya memberikan sedikit informasi bagi kalian yang ingi mengetahui lebih lanjut tentang PPSQ ASY-SYADZILY

Mohon maaf atas segala kekurangan kami . .
Trima kasih dan . .
Wassalam ..

SUSUNAN MANAJEMEN PONDOK PESANTREN SALAFIYAH AL-QUR’AN ASY-SYADZILI

Lampiran surat: No. 006/SK/Q-1/PPSQ ASY-SYADZILI/75/XII/2008

DEWAN PENGASUH
1.Ummul Ma’had : Ibu Nyai Hj. Rachmah Marzuqi
2.Ketua bidang pengembangan : Agus Drs. M. Misbahur Rofiq Sy
3.Ketua bidang pendidikan : Agus H. Abdul Mun’im Sy
4.Ketua bidang HUMAS : Agus. Drs. Abdul Mujib Sy M. Si
5.Ketua bidang kesantrian : Agus. Drs. Abdul Qodir Sy
6.Ketua bidang manajemen : Agus dr. Muhammad Mufid Sy

I.DEWAN PENGELOLA
1.Mudirul ma’had : Agus H. Abdul Mun’im Sy
2.Wakil bidang manajemen administrasi : Agus dr. Muhammad mufid Sy
3.Wakil bidang pendidikan : Agus Hadzimul Ahzab

II.KEPALA BAGIAN/UNIT
1.Kepala unit katering : Machsusiah
2.Kepala madrasah : Ust. Achmad jufri
3.Kepala PONPES anak : Mufarichatul Fikriyah Sy
4.Kepala bagian logistik : Muadz Sy
5.Kepala bagian keuangan : Titimatul Auliya
6.Kepala unit kantin : Ust. Muhammad Bajuri
7.Kepala bagian kesantrian : Ust. Kholilur Rohman
8.Kepala unit toko : Ust. Mashuri
9.Kepala bagian keamanan : Ust. Abdul Hakim
10.Kepala bagian perlengkapan : Ust. Abdus Shomad
11.Kepala bagian kerumahtanggaan : Ust. Achmad Hisyam
12.Kepala unit penjaminan mutu : Ust. Muhammad Nasir S. Ag
13.Kepala unit pendanaan strategis : Ust. Sholeh



YPPS Asy-Syadzili
Ketua,




AGUS Drs. MISBAHUR ROFIQ Sy

VISI DAN MISI PPSQ ASY-SYADZILY

a.Visi

”Mewujudkan generasi Qur’ani yang mampu melayani kebutuhan keagamaan masyarakat"
a.Misi

"Melaksanakan program pendidikan sesuai dengan program pendidikan yang berbasis kompetensi (KBK) untuk mencapai visi di atas"

PROFIL MU'ASSIS

KH. Syadzili Muhdlor lahir di Sedayu Gresik tahun1918, nasab beliau masih nyambung dengan Kanjeng Sunan Giri, salah satu wali yang termasuk wali songo, beliau adalah keturunan ketujuh Kanjeng Sunan Giri. Ayah beliau benama H. Muhdlor bin H. Khudlori Bani Imron, sejak kecil KH. Syadzili Muhdlor menjadi anak yatim karena ibunya wafat saat beliau berusia 4 tahun . beliau diasuh oleh yahnya dan ibu sambung, tak lama setelah dikhitan oleh ayahnya KH. Syadzili Muhdlor diantar mondok kepada Al-Maghfurlah Romo Kyai Munawar Sedayu Gresik untuk menghafal Al-Qur'an. Di bawah gemblengan Kyai Munawar inilah, KH. Syadzili berhasil menghafal Al-Qur'an Bil Ghoib pada usia 10 tahun, sejak kecil beliau merupakan anak yang selalu haus akan ilmu. Setelah mondok di Sedayau (Pesantren ternama yang berhasil mencetak Kyai-kyai besar) itu. KH. Syadzili Muhdlor memperdalam ilmunya dengan mondok di Keranji, Lamongan. Di pondok itu beliau habiskan waktu 5 tahun. Setelah itu beliau lanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu dan menambah guru di pondok lai, tidak tanggung-tanggung belua langsung menimba ilamu kepada Hadratush Syekh Kyai Hasym Asy'ari ulama' besar yang mendirikan Nahdaltul ulama' (NU) beliau nyantri di tebu ireng selama 8 tabun.
1.Berkeluarga Dan Berdakwah
Pada masa mudanya, KH. Syadzili Muhdlor dikenal sebagai pemuda yang pandai dan memiliki ilmu yang mumpuni. Almaghfurlah Romo Kyai Munawar kesengsem pada beliau, maka diambillah beliau menjadi menantu oleh Kyai Munawar dan KH. Syadzili Muhdlor dikarunia 4 anak diantaranya 1. Syekh Muafak Al-Hafidh (sekarang menjadi penduduk Makkah) 2. Musyafiyah (Al-marhumah) 3. H. Mu'adz (tinggal di Malang) 4. Hj. Qoyimah (tinggal di Malang). Namun Allah SWT maha berkehendak, pada tahun 1959, istri beliau wafat, KH. Syadzili Muhdlor cukup sedih kehilangan istri tercintanya, namun beliau ikhlas dan tetap sabar menerima cobaan ini.
Selang beberapa bulan kemudian ada seorang aghniya' bernama H. Marzuqi (Al-marhum) berasal dari Pakis, Kabupaten Malang, meminta KH. Syadzili Muhdkor agar sudi mengajar orang-orang Pakis. Setelah istikhoroh KH. Syadzili Muhdlor setuju untuk tinggal di Pakis. Beliaupun boyongan ke Pakis tepatnya di Desa Sumberpasir.
H. Marzuqi sendiri dikenal sebagai tokoh Pakis yang memperhatikan betul masalah dakwah islamiyah. Beliau punya cara sendiri dalam dakwahnya dimana beliau mengundang masayarakat sekitar untuk ke Masjid, di sana masyarakat yang hadir dijamu dengan hidanagn-hidangan yang enak-enak, beliau ikhlas menyembelih sapid an kambing buat dibagi-bagi pada masyarakat yang mau datang kemasjid, jika sudah banyak masyarakat yang berkumpul, barulah KH. Syadzili yang kebagian mengajar mereka ngaji.
Mungkin karena tertarik kepada semangat juangnya yang tinggi H. marzuqi menawari KH. Syadzili Muhdlor untuk dinikahkan dengan putrinya yang bernama Ibu Nyai Siti Rahmah Marzuqi. Dalam perkawinan ini KH. Syadzilim Muhdlor dikarunia 10 anak: 1. Hj. Afifah Sy Al-HAfidh, 2. Drs. Misbahcur Rofiq, 3. Drs. Abdul Mujib Sy. M. Si, 4. Kholilah Sy (Al-Marhumah) 5. Drs. Abdul Qodir Sy, 6. H. Abdul Mun'im Sy Al-Hafidh, 7. Mufidah Sy Al-Hafidhoh, 8. dr. Muhammad Mufid Sy, 9. Mufarrichah Sy Al-Hafidhoh, 10. Adibatus Sholichah Sy Al-Hafidh.
2.Pendidikan Anak dan Mengajar Santri
KH. Syadzili Muhdlor merupakan sosok Bapak yang sangat sayang kepada anak-anaknya, beliau selalu meninabobokkan mutra-putrinya sebelum mereka tidur, beliau selalu bersenandung nadzom ta'lim muta'allim dengan harapan agar anaknya nanti paham akan ilmu dan etika orang yang menuntut ilmu, KH. Syadzili Muhdlor selalu mengingatkan putra-putrinya agar jangan sampai salah memilih teman sebab teman yang buruk bisa menjerumuskan. Dengan pola asuh penyayang dan lemah lembut itulah, putra-putri beliau menganggab ayahanda mereka sebagai figure bapak yang nyungkani, memang secara dhohir beliau jarang sekali berbicara dengan putra-putrinya, bagi orang lain yang tidak tahu akan beranggapan bahwa KH. Syadzili Muhdlor kurang perhatian kepada anak-anaknya, namun dibalik itu semua, beliau mengakapkan diri dengan memanjatkan do'a kepada Allah agar anak-anaknya menjadi anak yang shaleh dan shalihah, dan alhamdulillah Allah mengabulkan do'a beliau, putra-putri beliau sekarang menjadi anak-anak yang shaleh dan shalihah meneruskan jejak abahnya.
Pola asu KH. Syadzili Muhdlor kepada anak-anak dan santri-santrinya memang beda, tapi tujuannya sama, yakni bagaimana agar mereka menjadi hamba-hamba Allah yang berilmu, yang mana dengan ilmu tersebut bisa digunakan untuk kemaslahatan dirinya maupun seluruh ummat. Kalau kepada anak-anaknya KH. Syadzili Muhdlor menampilkan figure bapak yang lembut, dan kalau kepada santrinya, beliau sangat tegas. Beliau sangat amanat dalam membimbing para santri sesuai dengat amanat orang rua santri, beliau tidak mau mengecewakan wali santri yang sudah titip kepada beliau. Hal ini sangat di rasakan oleh para murid yang dulunya nyantri kepada beliau, seperti KH. Maftuh (pengasuh PP. Al-Munawariyah, Bululawang, Malang), KH. Chusaini (Malang), KH. Nur Cholis (Malang)
3.Istiqomah dalam beribiah

SEJARAH PENDIDIKAN PESANTREN

Pada tahu 1961 – 1980 ada dua sistem yang dijalankan di PPSQ Asy-Syadzili yaitu:
Santri yang mukim di pesantren khusus menghafal Al-Qur'an.
Santri yang setiap hari pulang dan belajar mengaji Al-Qur'an dengan cara bi nadlor.
Dan yang sangat istimewa dari sistem pengajaran beliau dan tidak dapat ditemukan di pesantren manapun adalah setoran hafalan Al-Qur'an dilakukan satu per satu oleh para santri secara bergantian, kemudian santri membacakan hasil hafalannya berulang-ulang hingga tidak ada kesalahan pada hafalan santri tersebut, setelah selesai beliau (mu'assis) membacakan makro' yang akan dihafalkan oleh santri kemudia santri membacakan kembali makro' yang telah dibacakan tadi sampai tidak ada kesalahan pada bacaan santri tersebut, dengan system tersebut satu santri bisa memakan waktu 30 menit untuk melakukan setoran hafalan, sehingga waktu beliau (mu'assis) habis untuk mengajar para santri.
Pada akhir tahun 1980-an semakin banyak santri baru, santri baru tesebut diantaranya adalah alumni pesantren besar dan juga ada alumni PT (perguruan tinggi) umum, hal tersebut dimanfaatkan untuk ikut membantu mengajar santri-santri yang lain, namun belum bisa berjalan efektif karena pola pikir para santri masih tertuju pada tahfidhul Qur'an dan tidak menganggap penting disiplin ilmu yang lain seperti fiqih, nahwu DLL.
Awal tahun 1990-an belum lama setelah mu'assis wafat dan pesantren dalam keadaan fakum, mulai dirintis kuikulum pendidikan diniyah yang di dalamnya terdapat program tahfidhul qur'an sehingga tahfidhul qur'an masuk dalam kurikulum pendidikan diniyah, namun pada saat itu kondisi santri sangat labil sepeninggalan mu'assis dan menyebabkan program diniyah belum bisa dijalankan.
Pada awal tahun 1995 salah seorang putra beliau pulang dari pesantren Al-Falah Ploso, dan beliau (putra mu'assis/Agus Abdul Mun'im Syadzili) merasa prihatin melihat para hafidh dan hafidhoh yang tidak memahami ilmu agama (fiqih, nahwu, shorof DLL), maka diwajibkan bagi para santri untuk ikut pengajian kitab-kitab kuning (kitab salaf) dan bagi yang menolak ikut dipersilahkan untuk pulang.
Tahun 1998 program kurikulum diniyah mulai bisa dijalankan, namun para santri masih menganggap program tersebut sebagai penghambat cita-cita mereka untuk menjadi seorang hafidh dan hafidhoh, sehingga menyebabkan mereka merasa terpaksa mengikuti program tersebut.
Tahun 2000-2004 mulai ada perkembangan, para santri tidak terpaksa lagi untuk mengikuti program diniyah, tapi mereka menganggap program diniyah sebagai program sampingan sehingga mereka tidak mau belajar pelajaran diniyah.
Pada tahun 2004-sekarang Al-hamdulillah para santri sudah menyadari betapa pentingnya disiplin ilmu yang lain seperti fiqih, nahwu, shorof DLL. Dan program diniyah dilaksanakan dengan tertib, program diniyah dilaksanakan menggunakan system klasikal yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing-masing, tetapi karena sarana dan prasarana yang tidak representatif dan tenaga guru yang belum terfokus pada proses pendidikan maka belum bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
Dengan pengalaman yang begitu panjang maka mulai tahun 1429 H / 2008 M mulai diproses system pendidikan baru yang mengacu pada system pendidikan berbasis kompetensi yang lebih dilenal dengan istilah KBK (kurikulum berbasis kompetensi), dan untuk mempertahankan system yang telah dirintis oleh mu'assis maka setoran hafalan Al-Qur'an tetap dilakukan satu persatu (bergantian) sedangkan makro' yang harus dihafal oleh para santri dibacakan dengan cara kolektif, bagi para santri yang akan menyetorkan hafalannya dan secara kebetulan hafalan tersebut sama dengan yang dibacakan oleh pengasuh maka santri tersebut harus menyimak dengan seksama makro' yang dibacakan oleh pengasuh.
Demikian sejarah singkat pendirian PPSQ Asy-Syadzili dan sejarah pendidikan yang dilaksanakan di PPSQ Asy-Syadzili, mudah-mudah Allah SWT. Selalu memberikan taufiq, hidayah, inayah dan ma'unah pada kita semua. Amien.

SEJARAH SINGKAT PENDIRIAN PPSQ ASY-SYADZILI

PROFIL PPSQ ASY-SYADZILI

Berdirinya Pondok Pesantren Qur'an (PPSQ) Asy-Syadzili berawal dari seorang kaya raya yang sangat dermawan, beliau adalah H. MARZUQI, beliau memiliki hobi (kesukaan) yang aneh, hobi (kesukaan) beliau adalah mengambil menantu kyai yang diantaranya ialah:

    1. KH. Masluchin dari

    2. KH. Hasan dari Pasuruan

    3. KH. Ghozali dari Gresik

Pada tahun 1969 beliau (H. Marzuqi) mendapat informasi bahwa salah satu menantu KH. Munawar – Sedayu Gresik – ditinggal kembali mkerahmatullah oleh istrinya (putri dari KH. Munawar), dan menantu beliau (KH. Munawar) merupakan salah satu santri dari Hadrotus Syech KH. Hasyim Asy'ari -Jombang Jawa Timur- serta yang selama ini membantu mengasuh para santri.

Maka setelah mendengar informasi tersebut H. Marzuqi berkeinginan untuk mengambil KH. Syadzili Muhdlor (menantu KH. Munawar) sebagai menantu beliau dengan purtinya yang bernama Rahmah Marzuqi yang saat itu masih berusia 14 tahun sedangkan KH. Syadzili Muhdlor pada saat itu berusia 41 tahun, dan terkabullah keinginnan H. Marzuqi untuk menynting KH. Syadzili Muhdlor menjadi menantunya, semenjak KH. Syadzili Muhdlor menjadi menantu H. Marzuqi dan menetap di Sumberpasir maka beliau (KH. Syadzili Muhdlor) mumulai merintis pendidikan agama di sekitar wilayah sumberpasir.

Pada awalnya tidak ada santri yang menetap, sekitar tahun 1961-1980 terjadi kejadian aneh, tanpa alasan yang jelas beliau membubarkan para santri, kemudian beliau merintis kembali pendidikan agama yang telah dibubarkan tersebut, setelah di rintis kembali maka masuklah santri dari luar (santri pertama) yang menjadi cikal bakal menetapnya santri sampai saat ini, santri putra pertama tersebut bernama Maftuh dari gresik (saat ini lebih dikenal KH. Maftuh pengasuh PONPES AL-MUNAWARIYAH -Sudimoro, Bululawang, Malang-) dan santri putri pertama yang bernama Maftuhah dari Kediri, kedua santri dan santriwati tersubut tidak menetap di asrama melainkan menetap di ndalem (rumah) mertua pengasur sebab pada waktu itu mu'assis belum memiliki asrama sebagai tempat tinggal santrinya.

Pada tahun 1970 sudah banyak santri yang datang untuk nyantri (menetap) tetapi karena keterbatasan tempat dan fasilitas maka mereka belum bisa diterima hingga akhirnya pada tahun 1975 dibangunlah sebuah asrama kecil di atas tanah waqaf masjid yang berkapasitas sekitar 15 orang.

Pada tahun 1980-an ada seorang dermawan yang membeli rumah keluarga ibu Nyai (Hj. Rahmah MArzuqi) untuk diwaqofkan kepondok, dermawan tersebut ialah H. Jainal Abidin, dan rumah tersebut langsung difungsikan sebagai tempat tinggal para santri. Karena keterbatsan tempat dan yang lainnya maka pada waktu itu pengasuh membatasi jumlah santrinya sebanyak 40 orang dan pada saat itu juga pendidikan masih terfokus pada tahfidhul Qur'an saja, sebenarnya banyak fihak-fihak yang ingin membangun pondok tapi pengasuh belum berkenan untuk membangunnya.

Pada tahun 1980-an di bangun juga asrama pondok putri dengan kapasitas sekitar 30 orang, berdirinya pondok putri ini atas jasa ibu Nyai (Hj. Rahmah Marzuqi) dengan tanpa restu mu'assis, Ibu Nyai memberikan tanahnya untuk dibangun pondok.

Tahun 1991, 14 hari sebelum beliau wafat, beliau berwasiat kepada Ibunyai dan putra putrinya, agar mengijinkan orang/siapa saja yang berkeinginan membangun pondok, dan akhirnya pada tanggal 24 Djumadil Awal 1412 H beliau di panggil oleh sang kholiq, beliau wafat pada usia 75 tahun, saat-saat terakhir menjelang beliau wafat, beliau berwasiat:

    1. Kepada Ibu Nyai "Aku lek mati selametono lan arek-arek kudu terus golek elmu ojo oleh mandek" (Adakan selamatan kalau aku meninggal dunia, dan anak-anak harus terus menuntut ilmu dan jangan sampai berhenti)

    2. Pada salah seorang putra beliau "Ikhtiar iku hukume wajib lan ikhtiarku berobat wes cukup, awakmu kudu iso sabar lan terusno lek golek elmu" (ikhtiar itu hukumnya wajib dan ikhtiarku dalam berobat sudah cukup, kamu harus bisa bersabar dan lanjutkanlah dalam mencari ilmu)

Setelah beliau wafat, pondok putri langsung diambil alih oleh Nyai Hj. Afifah salah seorang putri beliau yang sudah lama ikut membantu mengajar, sedangkan untuk santri putra berada di bawah kendali Ibu Nyai Rahmah Marzuqi karena belum ada yang siap menggantikan mu'assis (KH. Syadzili Muhdlor) sedangkan pengajarannya diserahkan kepada santri senior yaitu Ust. Munadi dan Hasyim. Hal tersebut kurang efektif dan itu terjadi kurang lebih selama 1 tahun, dan selanjutnya terjadi kefakuman kurang lebih selama 3 tahun pada saat itu jumlah santri kira-kira tinggal 10 orang, hingga akhirnya pada tahun 1995 salah seorang putra beliau yaitu Agus H. Abdul Mun'im Syadzili pulang dari menuntut ilmu di Pondok Pesantntren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, namum waktu itu pengajaran bagi para santri belum bisa meksimal karena konsentarsi beliau (Agus Abdul Mun'im Syadzili) terpecah antara melanjutkan tugas pendidikan di PPSQ Asy-Syadzili dan tugas belajar di PP Al-Falah Ploso, jadi beliau harus pulang dan pergi antara Kediri dan Malang, jadi beliau membagi waktu selama 3 hari beliau ada di rumah untuk mengajar dan 3 hari beliau berada di PP Al-Falah Ploso untuk belajar, dan hal tersebut berjalan selama 3 tahun.

Hingga akhirnya pada tahun 1998 beliau mulai berkonsentrasi di rumah dan mulai merintis pendidikan diniyah yang selama ini belum terlaksana di PPSQ Asy-Syadzili.